Berita Bisnis – Mengawali 2018, Kementerian Pertanian (Kementan) semakin gencar menggerakkan program percepatan diversifikasi pangan. Program yang dicanangkan pada Oktober 2017 adalah satu diantara usaha mengurangi ketergantungan pada sumber karbohidrat seperti beras serta impor terigu.

Potensi Sorgum Bisa Dijadikan Pengganti Beras

Program ini bertujuan untuk meningkatkan pangan beda yang bersumber dari komoditas lokal bernutrisi dan aman untuk dikonsumsi. Terlebih saat ini pendapatan orang-orang makin bertambah serta tren hidup sehat yang kurangi konsumsi beras semakin marak.

Kementan mencatat sampai tahun 2017 tren mengkonsumsi beras nasional selalu alami penurunan. Walau tingkat mengkonsumsi beras di Indonesia masih jauh diatas mengkonsumsi negara-negara Asia, seperti Korea, Jepang, Thailand, serta Malaysia.

Salah satu komoditas lokal yang berpotensi mengkonversi beras serta terigu yaitu sorgum. Jenis diversifikasi ini sudah dikembangkan di lokasi Demak serta Larantuka, NTT mulai sejak lama. Bahkan juga sorgum miliki potensi besar bila pengolahannya diperkembang ke taraf industri kerakyatan.

” Karenanya, Balai Pengkajian Tehnologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur mulai sejak 2016 mulai lakukan pengkajian serta pengembangan sorgum di lokasi Jawa Timur, terutama di Kabupaten Lamongan, ” tutur Kepala BPTP Jawa Timur, Chendy Tafakresnanto , Selasa (2/1/2018).

Sejak 2016, BPTP Jawa Timur dengan Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) Tubuh Riset serta Pengembangan Pertanian yang didanai SMARTD, sudah berhasil merekayasa mesin pengupas kulit biji sorgum (penyosoh) dengan kemampuan 90—110 kg/jam. Jadi petani dapat menghemat biaya serta waktu karena tidaklah perlu lagi merontok biji sorgum.

Beras serta tepung sorgum begitu mungkin mendukung program diversifikasi pangan serta ketahanan pangan. Kandungan nutrisi beras sorgum lebih baik bila dibanding beras padi.

Kandungan protein beras sorgum sebesar 8—10%, sedang beras padi sekitaran 6%. Kalori (332 kal) serta Index Glicemik (IG) beras sorgum (48) lebih rendah daripada kalori (357 kal) serta IG (64) beras padi sehingga sesuai untuk customer yang menjalankan diet.

Sekarang ini produk olahan sorgum sudah diperkembang oleh UMKM di Kecamatan Babat, Lamongan dengan produk andalan chicky sorgum. Pemasarannya telah tiba ke Surabaya, Mojokerto, sampai Makassar.