Sri Mulyani Menyebutkan G20 Tidak Lagi Solid

Sri Mulyani Menyebutkan G20 Tidak Lagi Solid

Berita Bisnis – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengemukakan keluh kesahnya selesai hadir pertemuan 20 negara perekonomian besar yang terhimpun dalam G20 di Argentina, pada 30 November 2018 sampai 1 Desember 2018. Sri Mulyani menjelaskan situasi pada pertemuan itu begitu berlainan dari pertemuan pada 10 tahun kemarin.

“Sepuluh tahun berlalu, pertemuan G20 di Buenos Aires-Argentina ada dalam situasi yang berlainan. Kepaduan, kebersamaan serta persetujuan bersama dengan sepuluh tahun waktu lalu seperti menguap,” kata menteri yang akrab di sapa Ani itu lewat info tertulisnya, seperti diambil, Senin 3 Desember 2018.

Ani menuturkan, tidak terdapatnya perasaan kepaduan serta keakraban dalam pertemuan tahun ini pentingnya dipacu oleh ketegangan yang berlangsung karena kebijaksanaan konfrontasi perdagangan, normalisasi kebijaksanaan moneter serta kenaikan suku bunga the Fed (Bank Sentra AS) yang tidak disenangi oleh Presiden AS Donald J. Trump.

Hal tersebut, dikatakannya, memunculkan gejolak nilai ganti mata uang di beberapa negara pasar berkembang, harga komoditas, terpenting minyak bumi, turun naik seperti roller coaster, sampai pertarungan kebijaksanaan pajak yang sama-sama berlomba-lomba untuk turunkan tarif pajak (race to the bottom).

“Selain pemulihan ekonomi belum juga rata, kebijaksanaan ekonomi pada negara makin tidak sinkron serta tidak searah,” katanya.

Bila di banding 10 tahun lantas, lanjut ia, pertemuan G20 pertama yang diselenggarakan pada 2008 di Amerika Serikat, condong lebih kompak dalam melawan krisis ekonomi, yang saat itu dipacu oleh bangkrutnya beberapa industri keuangan Amerika Serikat, seperti Lehman Brothers serta perusahaan asuransi dunia AIG, yang menyebabkan kepanikan serta krisis keuangan semua dunia.

“Pada tahun 2008, semua pemimpin negara G20 kompak setuju selamatkan ekonomi dunia dengan kebijaksanaan ekonomi satu arah serta sama-sama memberi dukungan, sebab mereka yakin jika ekonomi global mesti dijaga bersama dengan,” katanya.

Meskipun begitu, Ani mengakui jika masih ada perkembangan penting diraih lewat komunitas G20 tahun ini. Dari mulai reformasi peraturan bidang keuangan serta perbankan, yang dikatakannya telah dikerjakan, serta diinginkan bisa menahan terjadinya resiko terlalu berlebih di bidang keuangan.

Sampai, terdapatnya perkembangan penting dalam kerja sama perpajakan pada negara, serta kerja sama memerangi penghindaran pajak lewat Base Erosion Keuntungan Shifting atau BEPS serta Automatic Exchange of Information atau AEOI, dan perpajakan ekonomi digital.

“Akan tetapi banyak rintangan belumlah terjawab serta resiko besar masih tetap melingkupi serta membayangi perekonomian dunia. Lonjakan utang di beberapa negara maju serta negara berkembang, ikut kenaikan utang korporasi memunculkan beban serta resiko ekonomi yang riil,” katanya.