Tahun Depan Harus Bersiap Dengan Serangan Ransome

Tahun Depan Harus Bersiap Dengan Serangan Ransome

Berita Teknologi – Insiden keamanan siber yang berlangsung selama 2017 dinilai jadi cermin untuk pemerintah. Insiden sepanjang tahun ini mengisyaratkan pemerintah supaya lebih serius memerhatikan isu keamanan siber.

Terdaftar banyak peristiwa mengagumkan keamanan siber berlangsung di tanah air. Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure/Coordinator Center (Id-SIRTII/CC) mencatat hingga November 2017, Indonesia memperoleh sejumlah 205. 502. 159 serangan.

Pada awal Februari 2017, umum tanah air dikejutkan dengan usaha peretasan website KPU waktu sistem perhitungan suara Pilkada DKI putaran pertama. Tidak kalah menghebohkan yaitu peretasan pada situs Telkomel serta Kejaksaan masing-masing berlangsung pada Maret serta April 2017.

Serangan keamanan siber berlangsung kembali pada Mei. Seluruh dunia termasuk juga di Indonesia alami serangan ransomware Wannacry. Selang sebagian bulan ransomware dengan jenis yang nyaris sama bernama Nopetya juga turut menyerang.

Mengingat banyak insiden itu, pakar keamanan siber Pratama Persadha menjelaskan, satu diantara yang pantas diliat yaitu fenomena keamanan siber ini sudah beresiko pada pemakai individu. Menurut dia pada titik ini peranan pemerintah untuk mengedukasi orang-orang.

“Isu pornografi WhatsApp, pemblokiran Telegram dan registrasi SIM Card yaitu bukti kalau isu keamanan siber ini telah menyentuh segera individu orang-orang. Tinggal saat ini PR besarnya sejauh serta sedalam apa negara dapat masuk dan mengedukasi orang-orang. Lantaran tanpa ada keterlibatan serta kesadaran orang-orang, susah membuat keamanan siber yang kuat serta paripurna, ” terang Chairman instansi penelitian keamanan siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) ini dalam info tertulis, Rabu 27 Desember 2017.

Pada 2018, Pratama menjelaskan, juga akan jadi tahun yang begitu repot. Pilkada 2018 serta mendekati Pemilu 2019 di pastikan buat kondisi tanah air menghangat. Pemerintah dapat menghadapi dari pertama dengan selalu mengedukasi internet aman serta sehat.

“Pendekatan hukum pada beberapa pelaku hatespeech memanglah mesti selalu dikerjakan, tetapi apabila tidak disertai dengan edukasi yang gencar juga akan begitu susah wujudkan situasi yang kondusif di sosial media serta internet biasanya, ” terang pria asal Cepu, Jawa Tengah ini.

Pratama juga mengingatkan, kondisi politik yang hangat mungkin memantik sama-sama retas antarkubu. Hal seperti ini mesti serius dipikirkan oleh pemerintah bagaimana mengurangi kemungkinan seperti ini.

Belum juga ancaman ransomware seperti Wannacry yang peluang besar ada kembali di tahun 2018.

“Wannacry serta Nopetya cuma dua dari beberapa ribu ransomware yang tercuri dari CIA. Kita tidak sempat tahu kapan serta dimana ransomware yang lain juga akan mereka deploy. Persiapan paling baik yaitu pemerintah membuat standar operasional procedure hadapi serangan ransomware ini, supaya tidak cepat meluas ke infrastruktur strategis tanah air, ” terangnya.

Pratama menerangkan, apabila Badan Siber serta Sandi Negara telah efisien jalan, semestinya SOP hadapi serangan ransomware seperti Wannacry dapat dengan gampang dikerjakan serta disosialisasikan. Belum juga serangan siber yang dapat segera menginfeksi smartphone, harus juga jadi perhatian serius.

“Ransomware yang juga akan masif menyerang ke depan diprediksikan juga telah dapat menginfeksi smartphone Android, juga iOS pada iPhone. Dari bocoran Wikileaks bahkan juga malware seperti itu memanglah telah diperkembang oleh CIA, hingga negara memang telah sepatutnya siaga, ” tuturnya.

Ancaman serangan pada individu memanglah diprediksikan selalu naik tajam. Perubahan teknologi buat adopsi Internet of Things (IoT) makin tinggi. Belum juga pemakaian smartphone untuk transaksi, dapat diliat dari gencarnya investasi di bidang ini, seperti investasi Jack Ma di Tokopedia. Seluruh perubahan ini harus dibarengi dengan penambahan keamanan siber di seluruh aspek.